Disease Surveillance

Temukan informasi terbaru mengenai Disease Surveillance bulan ini!

Laporan monitoring penyakit ini kami persembahkan untuk para stakeholder di industri perunggasan tanah air.

Dapatkan analisa tim Veterinary Service kami berdasarkan update penyakit di lapangan setiap bulannya!

Februari 2026

RINGKASAN ANALISA

Berdasarkan data BMKG, kelembapan relatif (RH) rata-rata pada bulan Januari berkisar sekitar 60 – 72%, dengan suhu permukaan berkisar antara 26,7°C.

Analisis curah hujan bervariasi dengan kriteria rendah (36%), sedang (60%), dan tinggi (4%). Hampir 81% wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan. Detail laporan cuaca ini dapat diakses di BMKG.

 

Kondisi ini membuat tantangan berat di tengah perubahan musim yang ekstrem. Kegagalan manajemen pemeliharaan dalam mengantisipasi perubahan cuaca dapat menyebabkan munculnya berbagai penyakit.

Total 74 kasus dari 21 penyakit atau kondisi berbeda, dengan broiler menyumbang 31 kasus dan layer 43 kasus.

 

 

 

 

Lima penyakit yang paling banyak dilaporkan pada Februari 2026 adalah:

  • CRD – 11 laporan (15%)
  • CCRD – 9 laporan (122%)
  • Cocci – 8 laporan (10%)
  • IB – 7 laporan (9%)
  • AI H9 – 5 laporan (7%)

Penyakit lainnya termasuk EDS, Mismanagement (5 Laporan, 7%), PVR (4 Laporan, 5%) aMPV, NE (3 Laporan, 4%) Coryza, ND, Leuco (2 laporan, 3%).

Laporan lainnya yang tersisa, mencakup , AI H5, Aspergilosis, SHS, Helminth, AE, IBH, IBD dan DOC Quality dengan 1 Laporan (1%)

 

 

Penyakit tertinggi yang dilaporkan pada Februari 2026 adalah Chronic Respiratory Disease (CRD). 

Jumlah laporan kasus meningkat cukup tinggi di bulan Februari 2026. Kasus pernafasan masih mendominasi ditambah dengan kasus-kasus produksi dan pencernaan yang juga naik laporannya. Sebuah fenomena yang menunjukkan bahwa kondisi kesehatan ternak ayam di Indonesia sedang berada pada titik tantang yang tertinggi. Kasus-kasus  kesalahan manajemen pemeliharaan dan penanganan vaksinasi juga ikut masuk dalam daftar penyakit bulan Februari dan memperparah situasi. Butuh pemahaman yang baik tentang  epidemiologi penyakit di suatu farm, disertai dengan penanganan menyeluruh saat  terjadi kasus penyakit agar periode tantangan tinggi ini dapat dilalui dengan baik.

74 kasus di Februari 2026 berasal dari 21 infeksi dan kondisi. 31 kasus dari broiler dan 43 dari layer. Diantara kasus-kasus yang  perlu dicermati adalah Egg Drop Syndrome 76. Sebuah infeksi virus yang pertama kali dilaporkan pada tahun 1976. Agen penyebabnya adalah Atadenovirus yang paling banyak menyerang pada ayam petelur. EDS 76 jarang dilaporkan sebanyak bulan Februari. Peternak sudah sangat awas dengan vaksinasi EDS 76 yang dilakukan antara umur 14 sampai 16 pekan dengan vaksin EDS killed. Namun dalam musim penghujan yang tidak menentu, kondisi higieni dan kebersihan kandang cenderung buruk dan pencemaran menjadi tinggi. Adanya cemaran virus sebelum vaksinasi dilakukan adalah salah satu penyebab tingginya kasus EDS selain bahwa keberhasilan vaksinasinya juga sangat tergantung pada baik buruknya proses vaksinasi yang dilakukan.

Peternak perlu meninjau ulang SOP pelaksanaan vaksin EDS nya agar proses persiapan vaksin, akurasi dan dosis dosis vaksin tepat. Lakukan pengulangan vaksin EDS bila ditemukan kesalahan pada persiapan dan proses vaksinasi. Jarak antara kedua vaksin EDS adalah 4-6 minggu senelum onset telur. Vaksinasi EDS ulang terbaik adalah vaksin kombinasi EDS dengan ND, IB (Mass & Varian) dan aMPV. Kombinasi vaksin ini akan menjaga produksi telur dari tantangan virus yang dapat menyebabkan penurunan produksi.

Post Vaccinal Reaction. Reaksi pasca vaksin pada dasarnya adalah tanda bahwa vaksin telah bekerja dan menimbulkan reaksi imun. Reaksi yang diharapkan biasanya dapat dikontrol dan tidak berkepanjangan. Namun pada beberapa situasi, reaksi vaksin menjadi berat dan tidak dapat lagi di kontrol. Beberapa reaksi pos vaksin pada ayam antara lain: ayam tampak agak lesu selama 1–2 hari, nafsu makan sedikit menurun, bersin atau ngorok ringan (terutama setelah vaksin respiratori), mata sedikit berair, produksi telur turun sementara pada ayam layer dan kadang feses lebih encer. PVR biasanya tidak berbahaya dan hanya berlangsung 1–3 hari.

Namun jika gejalanya berat atau berlangsung lama, bisa jadi ada infeksi sekunder, atau vaksin diberikan pada ayam yang sedang tidak sehat. Pencegahan reaksi posvaksin yang berat dapat dilakukan dengan memastikan ayam sehat saat vaksinasi, memberikan vitamin / elektrolit sebelum dan sesudah vaksin, lakukan perbaikan ventilasi kandang, dan kurangi stres (panas, kepadatan, pindah kandang).

Data laporan penyakit pada bulan Februari 2026 tersebut didapatkan dari 4 wilayah yaitu Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

 

PENYAKIT AYAM PEDAGING/BROILER

Untuk data penyakit ayam pedaging/broiler bulan ini berkontribusi 31 kasus penyakit. 

 

 

PENYAKIT AYAM PETELUR/LAYER

Sedangkan untuk data penyakit ayam petelur/layer bulan ini berkontribusi 43 kasus penyakit.

 

PREDIKSI PENYAKIT MARET 2026

Berdasarkan data surveillance selama 8 tahun, kami dapat memprediksi dominan penyakit yang akan muncul pada bulan-bulan tertentu. Untuk prediksi penyakit pada bulan Maret 2026, berdasarkan persentase kejadian penyakit pada bulan yang sama selama 8 tahun sebelumnya adalah sebagai berikut:

 

Berbagai ancaman masih akan dihadapi oleh pelaku usaha perunggasan di Indonesia pada bulan Maret 2026. Terutama jika cuaca hujan ekstrem terus berlanjut. Tiga penyakit dengan probabilitas tertinggi adalah: ND dengan 16%, CCRD dengan 11%, dan IB  dengan 9%.

Tiga penyakit yang paling diprediksi pada ayam pedaging/ broiler adalah: ND (18%), CCRD (17%), IB (12%).

 

Sedangkan prediksi ayam petelur/ layer adalah probabilitas ND (14%), Coryza (12%), dan CRD (8%)

 

 

Prediksi ini dimaksudkan untuk membantu komunitas unggas meningkatkan program pencegahannya, bukan sebagai jaminan keakuratan.

Informasi lebih lanjut mengenai Disease Surveillance bisa di unduh pada kolom di bawah atau hubungi tim PT Ceva Animal Health Indonesia di lapangan.

DISEASE SURVEILLANCE adalah newsletter rutin yang dikeluarkan oleh Departement of Veterinary Service Ceva Animal Health Indonesia. Disusun oleh drh. Ismail Kurnia Rambe – Veterinary Service Coordinator berdasarkan laporan dari seluruh dokter hewan Ceva Indonesia yang tersebar dilapangan. Seluruh grafik yang dituangkan merupakan data milik Ceva, mohon untuk mencantumkan sumber jika ingin menggunakannya.

Unduh Laporan Penyakit

Feb 2025