Disease Surveillance

Temukan informasi terbaru mengenai Disease Surveillance bulan ini!

Laporan monitoring penyakit ini kami persembahkan untuk para stakeholder di industri perunggasan tanah air.

Dapatkan analisa tim Veterinary Service kami berdasarkan update penyakit di lapangan setiap bulannya!

Juli 2026

RINGKASAN ANALISA

Berdasarkan data BMKG, kelembapan relatif (RH) rata-rata pada bulan Juli berkisar sekitar 70 – 85%, dengan suhu permukaan berkisar antara 28°C. BMKG juga mencatat nilai ini kira-kira 0,7°C lebih hangat dibandingkan suhu normal klimatologi di bulan Juni.

Analisis curah hujan bervariasi dengan kriteria rendah (80,75%), sedang (18%), dan tinggi (1,1%).  Sekitar 74% wilayah Indonesia sedang memasuki musim kemarau. Detail laporan cuaca ini dapat diakses di BMKG.

Kondisi ini membuat tantangan berat di tengah perubahan musim yang ekstrem. Kegagalan manajemen pemeliharaan dalam mengantisipasi perubahan cuaca dapat menyebabkan munculnya berbagai penyakit.

Total 83 kasus dari 25 penyakit atau kondisi berbeda, dengan broiler menyumbang 44 kasus dan layer 39 kasus.

 

 

 

 

Lima penyakit yang paling banyak dilaporkan pada Juli 2026 adalah:

  • Infectious Bronchitis– 8 laporan (10%)
  • AI H9 – 8 laporan (10%)
  • Heat stress – 8 laporan (10%)
  • CRD – 6 laporan (7%)
  • Respiratory Co-Infection – 6 laporan (7%)

Penyakit lainnya termasuk  Cocci, IBH (6 Laporan, 6%), IBD (5 Laporan, 5%), Coryza (4 laporan, 4% ), Mycotoxin, AI H5 (3 laporan, 2%) dan Aspergilosis, Colibacillosis, Dysbacteriosis (2 Laporan, 2%)

Laporan lainnya yang tersisa, mencakup, aMPV, NE, ILT, Omphalitis, Dehydration, MS, Feed Quality dan Fatty Liver (1 Laporan, 1%).

 

 

Penyakit tertinggi yang dilaporkan pada Juli 2026 adalah Infectious Bronchitis.

Kilas balik analisis cuaca Indonesia sepanjang Juli 2026 menunjukkan bahwa 74% wilayah Nusantara telah memasuki musim kemarau, dengan suhu rata-rata 0,7°C lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Manifestasinya terlihat dalam laporan GPS DS Juli 2026, yang menghimpun 83 kasus dari 25 infeksi/kondisi di empat area utama pengamatan. Tiga laporan tertinggi—Infectious Bronchitis (IB), Avian Influenza H9 (AI H9), dan Heatstress—dilaporkan dalam jumlah yang sama. Pola ini kembali mengingatkan bahwa cuaca ekstrem bukan sekadar fenomena meteorologis, tetapi dapat menjadi tekanan lingkungan yang memperbesar risiko gangguan kesehatan di kandang.

 

Heat stress menjadi salah satu tantangan utama, bahkan dapat dimulai sejak DOC masuk kandang dan berlanjut sepanjang periode pemeliharaan. Cekaman panas memicu respons fisiologis dan hormonal, termasuk peningkatan kortikosteron, yang pada kondisi berkepanjangan dapat mengganggu keseimbangan metabolisme dan fungsi sistem imun. Pada saat yang sama, kekeringan mukosa dan memburuknya kualitas udara dapat melemahkan pertahanan saluran respirasi, sehingga ayam menjadi lebih rentan terhadap infeksi. Dengan demikian, heat stress bukan sekadar persoalan suhu tinggi, tetapi sebuah tekanan fisiologis yang dapat membuka jalan bagi penyakit berikutnya.

 

Hal ini sejalan dengan pola kasus Juli, di mana sebagian besar laporan berkaitan dengan gangguan respirasi—IB, AI H9, CRD, Respiratory Co-infection, Infectious Coryza, ND, AI H5, dan lainnya—serta infeksi yang berkaitan dengan gangguan sistem imun seperti IBD, IBH, dan CAV. Dalam kondisi heat stress yang berlangsung terus-menerus, berbagai faktor tersebut dapat saling memperkuat dan menciptakan lingkaran masalah: stres menekan pertahanan tubuh, pertahanan yang menurun membuka peluang infeksi, dan infeksi kembali meningkatkan beban stres ayam.

 

Penggunaan closed house merupakan salah satu strategi penting untuk mengendalikan heat stress, tetapi keberadaan kandang tertutup tidak otomatis menjamin ayam terbebas dari cekaman panas. Manajemen ventilasi yang masih terlalu kaku berdasarkan umur atau standar umum sering kali tidak mampu mengikuti kebutuhan aktual ayam. Ventilasi harus dipahami sebagai sistem dinamis yang menyesuaikan suhu, kelembapan, kecepatan udara, kualitas udara, kepadatan, dan kondisi fisiologis ayam. Bahkan sejak minggu pertama, keberhasilan brooding tidak cukup hanya dinilai dari suhu lingkungan; suhu tubuh ayam yang berada pada kisaran fisiologis sekitar 39,4–40,6°C harus menjadi salah satu indikator penting bahwa ayam benar-benar berada dalam kondisi termal yang sesuai.

 

Musim kemarau masih panjang. Peringatan BMKG menjadi pengingat bahwa tantangan lingkungan belum berakhir. Bagi industri unggas, musim bukan sekadar perubahan cuaca, tetapi bagian dari dinamika kesehatan flock—ia mengubah lingkungan, respons fisiologis ayam, kualitas udara, dan peluang terjadinya penyakit. Semoga melalui diskusi dan berbagi pengalaman, kita dapat membaca tanda-tanda tersebut lebih dini, memperbaiki respons manajemen, dan melewati musim ini dengan sebaik-baiknya. Karena ayam tidak merespons angka di atas kertas, ayam merespons apa yang benar-benar terjadi di dalam kandang.

Untuk penanganan terbaik kasus-kasus di ternak ayam anda, hubungi representasi Ceva terdekat dengan lokasi kandang anda.

Data laporan penyakit pada bulan Juli 2026 tersebut didapatkan dari 4 wilayah yaitu Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

 

PENYAKIT AYAM PEDAGING/BROILER

Untuk data penyakit ayam pedaging/broiler bulan ini berkontribusi 44 kasus penyakit. 

 

 

PENYAKIT AYAM PETELUR/LAYER

Sedangkan untuk data penyakit ayam petelur/layer bulan ini berkontribusi 39 kasus penyakit.

 

PREDIKSI PENYAKIT AGUSTUS 2026

Berdasarkan data surveillance selama 8 tahun, kami dapat memprediksi dominan penyakit yang akan muncul pada bulan-bulan tertentu. Untuk prediksi penyakit pada bulan Agustus 2026, berdasarkan persentase kejadian penyakit pada bulan yang sama selama 8 tahun sebelumnya adalah sebagai berikut:

 

Berbagai ancaman masih akan dihadapi oleh pelaku usaha perunggasan di Indonesia pada bulan Agustus 2026. Tiga penyakit dengan probabilitas tertinggi adalah: ND dengan 14%, Respiratory Co-Infection dengan 12%, dan IB  dengan 9%.

Tiga penyakit yang paling diprediksi pada ayam pedaging/ broiler adalah: Respiratory Co-infection (19%), ND (15%), IBH (13%).

 

Sedangkan prediksi ayam petelur/ layer adalah probabilitas ND, CRD and Coryza (13%), IBD (9%), dan AI H9 and IB (6%).

 

 

Prediksi ini dimaksudkan untuk membantu komunitas unggas meningkatkan program pencegahannya, bukan sebagai jaminan keakuratan.

Informasi lebih lanjut mengenai Disease Surveillance bisa di unduh pada kolom di bawah atau hubungi tim PT Ceva Animal Health Indonesia di lapangan.

DISEASE SURVEILLANCE adalah newsletter rutin yang dikeluarkan oleh Departement of Veterinary Service Ceva Animal Health Indonesia. Disusun oleh drh. Ismail Kurnia Rambe – Veterinary Service Coordinator berdasarkan laporan dari seluruh dokter hewan Ceva Indonesia yang tersebar dilapangan. Seluruh grafik yang dituangkan merupakan data milik Ceva, mohon untuk mencantumkan sumber jika ingin menggunakannya.

Unduh Laporan Penyakit

Juli 2025