Disease Surveillance

Temukan informasi terbaru mengenai Disease Surveillance bulan ini!

Laporan monitoring penyakit ini kami persembahkan untuk para stakeholder di industri perunggasan tanah air.

Dapatkan analisa tim Veterinary Service kami berdasarkan update penyakit di lapangan setiap bulannya!

Mei 2026

RINGKASAN ANALISA

Berdasarkan data BMKG, kelembapan relatif (RH) rata-rata pada bulan Mei berkisar sekitar 70 – 90%, dengan suhu permukaan berkisar antara 27,5°C. BMKG juga mencatat nilai ini kira-kira 0,5°C lebih hangat dibandingkan suhu normal klimatologi di bulan Mei.

Analisis curah hujan bervariasi dengan kriteria rendah (37,2%), sedang (58,1%), dan tinggi (4,4%).  Sekitar 28,6% wilayah Indonesia sedang memasuki musim kemarau. Detail laporan cuaca ini dapat diakses di BMKG.

Kondisi ini membuat tantangan berat di tengah perubahan musim yang ekstrem. Kegagalan manajemen pemeliharaan dalam mengantisipasi perubahan cuaca dapat menyebabkan munculnya berbagai penyakit.

Total 54 kasus dari 20 penyakit atau kondisi berbeda, dengan broiler menyumbang 29 kasus dan layer 25 kasus.

 

 

 

 

Lima penyakit yang paling banyak dilaporkan pada Mei 2026 adalah:

  • CRD – 7 laporan (13%)
  • ND – 5 laporan (9%)
  • CCRD – 5 laporan (9%)
  • Cocci – 4 laporan (7%)
  • NE – 3 laporan (6%)

Penyakit lainnya termasuk IBH, IB, aMPV, Coryza, Helminthiasis (3 Laporan, 4%), IBD, Heatstress, Slowgrowth, Mismanagement, Mycotoxin (2 Laporan, 2%).

Laporan lainnya yang tersisa, mencakup, Aspergillosis, Fatty Liver, AI H9, Feed Quality dan PVR (1 Laporan, 1%).

 

 

Penyakit tertinggi yang dilaporkan pada Mei 2026 adalah Chronic Respiratory Disease (CRD).

Musim pancaroba tahun ini terasa lebih panjang dan lebih ekstrem di berbagai wilayah Indonesia. Dinamika cuaca berlangsung semakin abrupt; pagi hari diwarnai peningkatan suhu yang lebih cepat, sementara pada sore hingga malam hari hujan lebat disertai angin kencang dan badai petir kerap hadir tanpa banyak tanda. Suhu lingkungan pada siang hari juga cenderung lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. Demikianlah potret umum yang mewarnai perjalanan bulan Mei 2026.

Dampak perubahan cuaca tersebut tercermin jelas pada performa kesehatan ayam komersial. Laporan GPS DS sepanjang Mei menunjukkan dominasi kasus gangguan pernapasan, sementara kasus-kasus pencernaan turut meningkat dan memperumit tantangan di lapangan. Perubahan suhu yang tajam, fluktuasi kelembapan, serta kualitas udara kandang yang tidak stabil menjadi faktor predisposisi yang memperbesar tekanan terhadap sistem pertahanan tubuh ayam.

Chronic Respiratory Disease (CRD), Newcastle Disease (ND), dan CRD Complex menempati posisi teratas dalam laporan kasus bulan Mei. Pada segmen layer, CRD menjadi kasus yang paling dominan, sedangkan pada broiler, ND dan CRD Complex lebih banyak dilaporkan. Sekilas, pola ini mengindikasikan bahwa faktor lingkungan dan perubahan cuaca berperan penting dalam memicu meningkatnya kejadian penyakit pernapasan, baik pada layer maupun broiler.

Namun, telaah yang lebih mendalam menunjukkan fakta yang menarik. Sebagian besar laporan CRD berasal dari populasi pullet berumur kurang dari 50 hari. Temuan ini menguatkan dugaan bahwa peningkatan kasus CRD tidak semata-mata dipicu oleh cuaca, melainkan juga oleh faktor manajemen, terutama kualitas ventilasi dan sirkulasi udara kandang yang belum mampu beradaptasi secara optimal terhadap perubahan lingkungan yang ekstrem. Saat cuaca berubah cepat, kandang yang gagal menjaga keseimbangan suhu, kelembapan, dan kualitas udara akan menjadi arena yang ideal bagi berkembangnya penyakit pernapasan.

Kasus ND yang dilaporkan sepanjang Mei sebagian besar menyerang broiler dengan tingkat proteksi yang belum optimal. Banyak kasus ditemukan pada flok yang hanya memperoleh vaksinasi ND killed konvensional. Bahkan, beberapa kejadian juga dilaporkan pada broiler yang telah menerima program vaksinasi referensi, namun tanpa penguatan (booster) ND pada awal periode pemeliharaan. Kondisi ini patut menjadi perhatian serius mengingat karakter virus ND yang beredar di Indonesia dikenal memiliki tingkat virulensi yang sangat tinggi. Berdasarkan pengalaman lapangan, proteksi ND yang lebih komprehensif dapat dicapai melalui pemberian Vectormune ND yang dikombinasikan dengan ND LaSota pada DOC, kemudian diperkuat kembali dengan vaksin ND LaSota pada umur 8–12 hari.

Sementara itu, kasus CRD Complex kembali menegaskan pentingnya konsistensi manajemen pemeliharaan. Sebagian besar kasus berakar dari ketidaksempurnaan proses sejak tahap persiapan kandang, kualitas brooding, pengelolaan ventilasi, hingga pengaturan kepadatan dan kualitas litter selama masa pemeliharaan. Ketika faktor-faktor tersebut tidak berjalan optimal, agen penyakit oportunistik akan lebih mudah mengambil keuntungan dari kondisi stres lingkungan yang terjadi.

Kasus lain yang menyita perhatian sepanjang Mei adalah meningkatnya kejadian coccidiosis pada broiler. Dalam dunia perunggasan, coccidiosis kerap disebut sebagai man-made disease—penyakit yang lahir dari konsekuensi sistem pemeliharaan modern itu sendiri. Upaya memelihara populasi ayam dalam jumlah besar pada ruang yang terbatas menyebabkan akumulasi ookista di lingkungan kandang meningkat secara signifikan. Ketika keseimbangan lingkungan terganggu, tekanan infeksi akan melampaui kemampuan alami ayam untuk mengendalikan paparan tersebut, dan coccidiosis pun muncul sebagai konsekuensinya.

Sepanjang sejarah pengendalian coccidiosis, penggunaan antikoksidia menjadi tulang punggung program pencegahan dan pengobatan. Namun, pengalaman global menunjukkan bahwa resistensi terhadap berbagai golongan antikoksidia pada akhirnya akan berkembang, cepat ataupun lambat. Oleh karena itu, vaksinasi kini semakin diakui sebagai pendekatan yang lebih berkelanjutan dalam mencegah coccidiosis sekaligus mengurangi tekanan seleksi yang memicu resistensi. Solusi vaksinasi coccidiosis telah tersedia dan terbukti memberikan hasil yang baik apabila diaplikasikan sesuai rekomendasi teknis yang tepat.

Bulan Mei telah berlalu, meninggalkan berbagai catatan penting bagi industri perunggasan. Setiap kasus yang muncul bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan pelajaran berharga yang mengingatkan kita bahwa keberhasilan pemeliharaan selalu bertumpu pada kesiapan menghadapi perubahan. Semoga pengalaman selama Mei menjadi bekal untuk menyongsong Juni, Juli, dan bulan-bulan berikutnya dengan manajemen yang lebih presisi, biosekuriti yang lebih disiplin, serta strategi pencegahan yang semakin kuat.

Untuk penanganan terbaik kasus-kasus di ternak ayam anda, hubungi representasi Ceva terdekat dengan lokasi kandang anda.

Data laporan penyakit pada bulan Mei 2026 tersebut didapatkan dari 4 wilayah yaitu Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

 

PENYAKIT AYAM PEDAGING/BROILER

Untuk data penyakit ayam pedaging/broiler bulan ini berkontribusi 29 kasus penyakit. 

 

 

PENYAKIT AYAM PETELUR/LAYER

Sedangkan untuk data penyakit ayam petelur/layer bulan ini berkontribusi 25 kasus penyakit.

 

PREDIKSI PENYAKIT MEI 2026

Berdasarkan data surveillance selama 8 tahun, kami dapat memprediksi dominan penyakit yang akan muncul pada bulan-bulan tertentu. Untuk prediksi penyakit pada bulan Mei 2026, berdasarkan persentase kejadian penyakit pada bulan yang sama selama 8 tahun sebelumnya adalah sebagai berikut:

 

Berbagai ancaman masih akan dihadapi oleh pelaku usaha perunggasan di Indonesia pada bulan Juni 2026. Tiga penyakit dengan probabilitas tertinggi adalah: ND dengan 13%, CCRD dengan 11%, dan CRD  dengan 10%.

Tiga penyakit yang paling diprediksi pada ayam pedaging/ broiler adalah: CCRD (17%), ND (14%), IB (10%).

 

Sedangkan prediksi ayam petelur/ layer adalah probabilitas CRD (13%), ND (12%), Coryza dan IB (8%).

 

 

Prediksi ini dimaksudkan untuk membantu komunitas unggas meningkatkan program pencegahannya, bukan sebagai jaminan keakuratan.

Informasi lebih lanjut mengenai Disease Surveillance bisa di unduh pada kolom di bawah atau hubungi tim PT Ceva Animal Health Indonesia di lapangan.

DISEASE SURVEILLANCE adalah newsletter rutin yang dikeluarkan oleh Departement of Veterinary Service Ceva Animal Health Indonesia. Disusun oleh drh. Ismail Kurnia Rambe – Veterinary Service Coordinator berdasarkan laporan dari seluruh dokter hewan Ceva Indonesia yang tersebar dilapangan. Seluruh grafik yang dituangkan merupakan data milik Ceva, mohon untuk mencantumkan sumber jika ingin menggunakannya.

Unduh Laporan Penyakit

Mei 2025